SISTEM TELEVISI HITAM PUTIH, BERWARNA, DAN DIGITAL

Khaerul Anam Sunday, May 06, 2018

SISTEM TELEVISI HITAM PUTIH, BERWARNA, DAN DIGITAL



Selamat siang sahabat pembaca, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Sistem Televisi Hitam Putih, Berwarna, dan Digital pada Teknik Telekomunikasi. 

6.1 Pembacaan Dan Penayangan Gambar

Pembacaan objek oleh kamera disisi pengirim maupun penayangan gambar pada layar disisi penerima dilakukan titik demi titik dari kiri ke kanan, atas ke bawah, sehingga terbagi N baris, di ulang ulang M kali per detik.
Arah gerak dari kiri kekanan disebut langkah maju horisontal. Jika dari atas kebawah disebut langkah maju vertikal
Gerak kembali dengan sangat cepat ke kiri disebut langkah balik horisontal. Gerak kembali ke tepi atad disebut langkah balik bertikal atau flyback.
Titik cerah diwakili dengan tegangan rendah, sedangkan titik gelap untuk mewakili   tegangan tinggi. Teknik diatas adalah modulasi negatif.
Nisbah antara lebar terhadap tinggi layar (yakni w:h) disebut nisbah aspek
N baris yang membentuk satu layar penuh disebut bingkai.jika perbaris di beri nomor maka akan urut.1.2.3dst. jika pembacaan dan penayangan secara urut sesuai baris baris satu bingkai maka teknik ini disebut pemayaran progresif
Tv konvensional menggunakan pemayaran bersisipan yautu satu bingkai dengan 625 baris dipilah menjadi 2 kelompok yaitu kelompok nomor gasal dan genap, yang masing masing kelompok berisikan baris 312,5. Satu kelompok tsb di sebut satu medan. Jadi satu bingkai ada 2 medan yaitu genap dan ganjil.
Pada saat langkah balik layar harus dipadamkan. Dan pemayaran harus serempak pada penerima dan pengirim.kamera dilemgkapi dengan isyarat denyut denyut pemadaman dan penyerempak agar siap dikirim ke sisi penerima.




6.2. Perhitungan Lebar-Bidang Video

Gambar yang ditinjau dalam satuan bingkai memiliki perbandingan aspek atau biasa disebut aspect ratio yang merupakan perbandingan/rasio antara lebar(width) dengan tinggi(height), sebagai w∶ h. dan bingkai tersebut sebenarnya merupakan perbandingan antara r baris dan c kolom, sehingga r∶ c = h∶ w. dengan demikian, bingkai/gambar tersebut mempunyai piksel sebanyak p = cr = (w/h)rr = (w/h) r^2.
Jika scanning dilakukan sebanyak n kali perdetik, terdapat np piksel per detik dimana setiap piksel diubah menjadi isyarat video. Daur isyarat video mewakili dua piksel, sehingga frekuensi isyarat video sebesar f_H=np/2 Hz



6.3 TV Hitam-Putih

    Berdasar gambar 6.6, tampak bahwa isyarat video digunakan untuk memodulasi secara AM-VSB (Vestigial side-band). Sinyal pembawa gaambar dan sinyal audio digunakan untuk memodulasi secara FM isyarat suara. Spektrum VSB dapat dipandang sebagai USB ditambah sebagian kecil LSB. Frekuensi pembawa suara terletak MHz diatas frekuensi pembawa gambar. Spektrum dan alokasi frekuensi TV hitam-putih diperlihatkan pada gambar 6.7.



6.4 TV Berwarna

    Dikenal 3 sistem televisi yakni NTSC (National Television Systems Comittee) yang banyak dipakai dipakai di Amerika dan jepang. PAL (Phase Alteration by Line) yang dipakai di Indonesia dan sebagian Eropa, serta SECAM (Sequential Couleres a Memoire) yang dipakai di Perancis.

    Pada BWTV, sinyal video keluaran kamera hanya mewakili aras kelabu (gelap - terang) titik pada obyek yang sedang sedang dibacanya. Layer penampilan juga hanya menampilkan menampilkan aras kelabu titik-demi-titik.


Untuk televisi berwarna(Colour television, CTV), keluaran tahap awal kamera merupakan komponen warna atas titik yang sedang dibacanya. Setiap warna akan diurai menjadi tiga kompone dasar, yakni merah(red, R), hijau(green, G) dan biru (blue, B). sebalikanya disisi penerima, layer penampil melakukan sistesis warna berdasar tiga komponen tersebut. Secara teoretis, sisi pengirim pada dasarnya cukup mengirimkan tiga komponen warna tersebut. Namun agar penerima hitam-putin masih tetap dapat berfungsi , sisi pengirim tetap perlu mengirimkan isyarat yang mewakili aras kelabu, yang tidak lain adalah isyarat video pada BWTV. Dalam terminology CTV, isyarat yang mewakili aras kelabu ini disebut luminans(luminance). Lazim dinotasikan dengan Y, yang dibangun dengan Y = 0,59 G + 0.30 R + 0,11 B.
    Pembangkitan isyarat video pengirim dan penayangannya di penerima CTV secara umum diperlihatkan gambar 6.8. Keluaran R,G,G dari kamera di ubah menjadi Y, C1, dan C2, dengan C1, dan C2 secara umum berbentuk Ck = rkR + gkG + bkB. Nilai koefisien rk, gk, dan bk tergantung sistemnya : NTSC, PAL, atau SECAM. Dengan hadirnya kroma, spektrum frekuensi CTV sedikit berbeda dengan BWTV, seperti pada gambar 6.9.

    Spektrum terletak dalam rentang spektrum luminans, namun luminans dan kroma tidak saling interferens karena diterapkannya Teknik penyelingan frekuensi(frequency interleaving). Spektrum kroma dan luminans bukanlah spektrum kontinu, melainkan spektrum garis.


6.5 Penyandi Dan Pengawa-Sandi Krominans

    Encode dan decoder krominans NTSC diperlihatkan  pada gambar 6.12. isyarat C1 dan C2 pada gambar 6.8 diwujudkan sebagai isyarat in-phase(I) dan quadrature(Q) . sub pembawa koma memiliki frekuensi ,58 MHz, yang digeser dulu 57derajat untuk dimodulasi oleh I dan digeser lagi 90 derajat untuk dimodulasi oleh Q.


    Gambar 6.14 membuktikan encoder dan decoder krominans system SECAM. Dibentuk isyara DR = -1,9 (R-Y) dan DB = 1,5 = 1,5(B-Y) yang dikirim secara sekuensial (bergantian perbaris).  Sub pembawa kroma  memiliki frekuensi sekitar 4,43 MHz, modulasi FM. Identifier sederhana diperlukan agar decoder tidak terbalik mengurutkan DR dan DB.


6.6 Televisi Digital

Penyiaran TV digital berarti merepresentasikan secara digital gambar dan suara yang aslinya analog agar dapa ditransmisikan. Alasan utama teknologi penyiaran TV dialihkan dari analog menjadi digital yakni efisiensi lebar-bidang frekuensi. Kanal frekuensi selebar 8 MHz dengan sistem analog hanya mampu menampung satu stasiun TV sedangkan untuk digital dapat menampung hingga 6 stasiun TV, disamping itu penggunaan teknologi digital mampu meningkatkan kualitas dari gambar.
Dalam penyiaran TV digital, terdapat 2 bagian yang distandarkan, bagian I untuk pemampatan dan penjamakan, sedang bagian II untuk kendali galat dan sistem transmisi. Untuk pemampatan sebagian besar menggunakan standar MPEG-2 (Moving Picture Expert Group-2). Pada bagian II terdapat beberapa standar, di Indonesia sendiri KOMINFO telah menetapkan penggunaan standar DVB-T (Digital Video Broadcasting Terrestrial) untuk penerima tak bergerak.
Elektronika pesawat penerima TV digital sangat berbeda dengan pesawat penerima TV analog, sehingga jika kita masih ingin menggunakan pesawat penerima TV analog yang tersedia maka diperlukan alat perantara yang lazim yang biasa disebut dengan STB (Set Up Box) yang pada dasarnya merupakan alat penerima digital.

PRINSIP KOMUNIKASI DAN JARINGAN DATA (TEKNIK TELEKOMUNIKASI)

Khaerul Anam Sunday, May 06, 2018

PRINSIP KOMUNIKASI DAN JARINGAN DATA (TEKNIK TELEKOMUNIKASI)



Selamat siang sahabat pembaca, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Prinsip Komunikasi dan Jaringan Data pada Teknik Telekomunikasi.

7.1 Prinsip Komunikasi Data

Komunikasi data adalah proses komunikasi yang memanfaatkan pengiriman data secara elektris dengan memanfaatkan teknologi yang ada pada masa kini, misalnya email dan komunikasi antar komputer.


7.1.1 Prinsip pemenggalan Blok

    Pada sumber/ source, blok informasi berukuran besar dipenggal menjadi beberapa blok yang lebih kecil dan dipenggal lagi hingga diperoleh rentenan bit untuk dialirkan. Misalkan pemenggalan terjadi dalam 3 tingkat, Informasi  Pesan  Karakter  Bit. Sebagaimana diilustrasikan pada gambar 7.1.



7.1.2 Sinkronisasi Bit dan Singkronisasi Karakter

    Pada sisi sumber/pengirim mengeluarkan runtun bit. Sisi tujuan atau penerima harus mengumpulkan seluruh bit tersebut. Upaya membuat agar waktu pengirimian dan penangkapan bit secara benar, inilah disebut sinkronisasi bit, yang sepenuhnya diselesaikan secara perangkat keras. Pada pengirimannya dikenal berbagai jenis penyandian saluran(line coding), misalnya NRZ, AMI dan lain lain. Salah satu hal yang dipertimbangkan dalam penyandian saluran adalah keperluan untuk sinkronisasi bit ini. Setelah bit terkumpul, langkah berikutnya adalah merangkai kembali menjadi karakter-karakter. Upaya membuat agar penerima dapat merangkai kembali karakter secara benar dsebut dengan sinkronisasi karakter yang memerlukan penyelesaian secara perangkat lunak. Untuk keperluan sinkronisasi karakter dikenal transmisi Serempak dan tak-serempak.



               Pada ragam tak-serempak, setiap karakter diawali dengan start bit dan diakhiri dengan stop bit. Pada ragam singkron, suatu blok serentetan banyak karakter didahului dengan sejumlah karakter singkronisasi. Semua itu tentunya turut membebani kanal, sehingga menurunkan efisiensi.



7.1.3 Keutuhan dan Kecermatan

    Akibat dari kendala media, pada di penerima dimungkinkan ada bit yang galat(error). Dalam perjalanan dimungkinkan ada sebagian data yang hilang atau loss. Dalam banyak kasus, komunikasi menuntut keutuhan (integrity) dan tidak memperkenankan adalah galat (error) namun mengharuskan terjaminnya penyajian secara waktu nyata(real-time). Saat penerima mencurigai adanya error pada blok atau ada yang hilang, terbuka untuk melakukan transmisi ulang atas blok bermasalah tersebut.
    Agar pengiriman yakin bahwa blok tersebut telah diterima,  carannya adalah sebagai berikut. Setelah menerima suatu blok, sisi penerima memberitau pengirin bahwa bahwa telah menerimanya, dengan cara mengirim pesan pernyataan atau pangakuan(acknowledgement, ACK) ke pihak pengirim. Jika pada pengirim ACK tak kunjung tiba maka boleh menyimpulkan bahwa blok tadi tidak sampai ke penerima, dan perlu dikirm ulang.


              Dalam komunikasi data, teknik yang lazim adalah permintaan ulang otomatis (automatic repeat request, ARQ) yakni penerima meminta pengirim untuk mengirim ulang blok itu. Pada Komunikasi yang kurang mungkin menerapkan ARQ seperti video (real-time) maka dapat menerapkan galat maju(forward error corection, FEC) atau biasa disebut penyandian kanal.

7.2 Arsitektur Protokol Berlapis

7.2.1 Analogi Pengantar

    Analogi pengirman surat dari seorang direktur di suatu perusahaan kepada direktur di perusahaan lain, Jika direktur dianggap layer atas, kurir sebagai layer bawah, maka sekretaris merupakan layer tengah. Isi surat merupakan urusan direktur(layer atas). Sekretaris menambahkan alamat dan atribut. Lalu kurir(lapis bawah) membawanya ke kantor pos.



7.2.2 Manfaat Pelapisan

    Diperlukan penjenjangan urusan menjadi beberapa lapis. Setiap lapis memiliki fungsi sendiri sendiri dan tidak mengintervensi fungsi lapisan lain, namun harus mampu berinteraksi dengan lapisan lain terdekatnya, setiap lapis bertindak sebgai pelayan bagi lapisan tepat di atasnya. Dalam penjenjangan yang lebih rinci, lapis paling atas , tengah, dan paling bawah biasa disebut lapisan aplikasi(Aplication layer, APP), lapisan trnasport(Transport layer) dan lapisan fisis(Physical layer, PHY). Di setiap perangkat, diperlukan prosedur untuk interaksi antar lapisan. Prosedur seperti itu disebut protokol. Disamping interaksi antar lapisan di suatu stasiun, diperlukan pula interaksi antar lapis setara pada kedua stasiun, interaksi antar lapis setara pada kedua stasiun disebut peer to peer yang juga memerlukan protokol tertentu.



7.2.3 Komunikasi Antar Lapisan

    Dari sisi pengirim jika pengirim, missal lapis ke N hendak mengirimkan sebuah blok data, setelah ditambahkan bit tambahan sebagai panduan. Blok ini diserahkan pada ke lapis N-1. Lapis N-1 manambahkan sejumlah bit pada data berupa Header(H) dan Trailer(T). H/T dapat berisi pengenal dan atribut lain yang diperlukan. Data yang telah ditambahkan H/T diserahkan dilapis N-2 yang menambahkan H/T lagi, baru dikirimkan.
    Proses penambahan H/T disebut Pengkapsulan(Encapsulation). Setelah tiba di sisi penerima H/T dilucut oleh setiap lapis yang bersesuaian. Pelucutan H/T disebut decapsulation. Penjelasan dapat dilihat pada gambar 7.6.

7.2.4 Pemenggalan dan Perakitan

    Pada sisi pengirim blok data dari lapis atas tentu akan sangat Panjang, lapisan dibawanya memungkinkan untuk memenggal menjadi beberapa blog pendek. Ada beberapa penamaan untuk blok data diantaranya : segmentasi, fragmentasi atau paketisasi.
    Pada sisi penerima terjadi proses sebaliknya. Setiap penggalan data disatukan kembali. Tata cara pemenggalan mengikuti protocol tertentu,  Panjang setiap sudah tertentu, ada yang selalu sama ada yang selalu berbeda beda. Jika terjadi deficit pada data yang hendak dipenggal-penggal, dengan mudah ditambahkan zero padding. Lebih jelasknya lihat gambar 7.7



7.2.5 Komunikasi Sejawat

    Setibanya sampai di penerima, dimungkin paket tidak seperti urutannya, atau malah hilang atau loss. Ole itu diperlukan komunikasi antar lapisan sejawat (peer to peer) di sisi pengirim dan penerima. Komunikasi sejawat bersifat maya atau virtual. Komunikasi sejawa dapat dilihat pada gambar 7.8 sebagai mana telah dijelaskan sebelumnya.



7.2.6 Stasiun Akhir dan Simpul Antara

    Semua lapisan dari bawah hingga keatas dioperasikan di stasiun terakhir(sumber dan tujuan). Simpul simpul antara(intermediate) ada yang beroperasi di lapisan paling bawah saja. Namun ada yang hingga lapisan paling atas. Dideskripsikan pada gambar 7.9 dan 7.10
     Dijaringan terjadi pengaliran simpul-simpul yang tunduk pada protocol tertentu. Dalam pengiriman dan penerimaan paket-paket data, terminal-terminal akhir juga mengikuti protocol yang sama.

7.2.7 Ilustrasi Cara Kerja

 



7.3 Standar-Standar Protokol

Terdapat beberapa jenis protokol, diantaranya OSI (Open system interconnection)(lihat gambar 7.11(1)). Pada jaringan terdapat beberapa simpul perantara, simpul antara dapat berupa sekedar pengulang yang beroperasi hanya dilapisan fisis, hingga gateway yang beroperasi penuh tujuh lapisan.


Beberapa protocol lain yang cuku popular adalah ATM (Asyncronous Transfer Mode) dan TCP/IP(Transfer Control Protocol/Internet Protocol(Lihat Gambar 7.11[2])



7.4 Lintas Jaringan

Setiap stasiun atau perangkat yang tertambat dalam suatu jaringan harus memiliki alamat di jaringan itu sendiri. Bila dapat saya perjelas. Misalkan, terdapat dua buah stasiun yaitu Stasiun X dan stasiun Y, stasiun X hanya terhubung ke jaringan satu, dan dijaringan 1 alamat yang dimiliki adalah A11, sedangkan stasiun Y terhubung ke jaringan 2 dengan alamat A21, dimana pada bagian tengah simpul tersebut terdapat N sebagai penghubung.
Bila dihubungkan dengan protokol, stasiun X dan Y beroperasi dengan protokol sesuai jaringan tempatnya tertambat,  sedangkan simpul tengah yang menjadi acuan harus mampu beroperasi dengan protokol yang dianut kedua jaringan.


7.5 Luas Liputan Jaringan

    Berdasarkan luas liputannya, jaringan dapat dikelompokkan urut dari liputan tersempit ke liputan terluas berturut-turut :
-PAN (Personal Area Network)
-LAN (Local Area Network)
- MAN (Metropolitan Area Network)
- WAN (Wide Area Network)

PENYEBAB DASAR KECELAKAAN DAN PENGERTIAN KESELAMATAN (SAFETY)

Khaerul Anam Thursday, May 03, 2018

PENYEBAB DASAR KECELAKAAN DAN PENGERTIAN KESELAMATAN (SAFETY)


Penyebab Dasar Kecelakaan dan Pengertian Keselamatan (Safety) - Penyebab Dasar Kecelakaan dibedakan menjadi factor pribadi dan factor kerja:

Penyebab Dasar Kecelakaan  dari Faktor Pribadi antara lain:

•    Kemampuan fisik atau phisiologi tidak layak
•    Kemampuan mental tidak layak
•    Stress fisik atau phisiologi
•    Stress mental
•    Kurang pengetahuan
•    Kurang keahlian
•    Motivasi tidak layak

Penyebab Dasar Kecelakaan dari Faktor Kerja antara lain:

•    Kemampuan fisik atau phisiologi tidak layak
•    Kemampuan mental tidak layak
•    Stress fisik atau phisiologi
•    Stress mental
•    Kurang pengetahuan
•    Kurang keahlian
•    Motivasi tidak layak

Pengertian Keselamatan (Safety):

a.    Mengendalikan kerugian dari kecelakaan (control of accident loss)
b.    Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan menghilangkan (mengontrol) resiko yang tidak bisa diterima (the ability to identify and eliminate unacceptable risks)